Langsung ke konten utama

Makalah Ilmu Al-Jarh wa Al-Ta'dil Ulumul Hadits

BAB 1 PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Umat Islam memiliki dua landasan utama yaitu Al-Quran dan Hadits (Sunnah) sebagai pedoman hidup di dunia.   Al-Qur’an yang notaben kalam Allah, telah dijamin kemurnian dan keabsahannya. yakni Al-Qur’an shahi likulli zamanin wamakan karena Al-qur’an diturunkan secara mutawatir . Sedangkan Sunnah atau sabda Rasul tidak semuanya berpredikat mutawatir , sehingga tidak semua hadis bisa diterima, karena belum tentu setiap hadis itu berasal dari Rasulullah. Oleh karenanya muncullah ilmu yang berkaitan dengan hadis atau biasa disebut dengan istilah ‘ Ulumul Hadits . Dari berbagai macam cabang ilmu yang berkaitan dengan hadis, ada satu ilmu yang membahas tentang keadaan perawi dari segi celaan dan pujian, yaitu Ilmu Al-Jarh wa Al-Ta’dil . Dari ilmu inilah kita bisa mengetahui komentar-komentar para kritikus hadis tentang keadaan setiap perawi, apakah diterima ( maqbul ) atau ditolak ( mardud ) sehingga nantinya bisa ditentukan status dan deraj

Makalah Mad'u dan Tujuan Dakwah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai, bahwa tata cara memberikan lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu sendiri. Semangkok teh pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengn cara sopan, ramah dan tanpa sikap yang dibuat-buat, akan lebih terasa enak dicicipi.

Dalam konteks ini tata cara atau metode lebih penting dari materi, yang dalam Bahasa Arab dikenal dengan Al-Thariqah Ahammu min Al-Maddah. Ungkapan ini sangat relevan dengan kegiatan dakwah. Betapapun sempurnanya materi, lengkapnya bahan dan aktualnya isu-isu yang disajikan,tetapi bila disampaikan dengan cara yang sembrono, tidak sistematis dan sembarangan, akan menimbulkn kesan yang tidak simpatik dan berujung kesia-siaan. Tetapi sebaliknya, walaupun materi kurang sempurna, bahan sederhana dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun disajikan dengan cara yang menarik dan menggugah, maka hasilnya akan impresif dan melahirkan manfaat.

Dan salam pengejawantahan ajaran Islam, tentunya diperlukan format dakwah yang benar yang bermuarah kepada pencerdasan dan pendewasaan keagamaan, melihat problematika umat yang dihadapi dewasa ini sangat kompleks, akan tentunya membutuhkan pemecahannya. Untuk itu dakwah harus tampil secara aktual, faktual dan kontektstual dalam artu relevan dan menyangkut problema yang sedang dihadapi oleh masyarakat, kesemuanya ini dilakukan demi untuk mewujudkan khairu ummah.
 
Sayyed Qutb dengan pernyataannya, seakan-akan ingin meyakinkan bahwa dalam dakwah islamiyah terdapat nilai-nilai yang universal. Definisi Sayyed Qutb tentang dakwah ini memiliki kesamaan makna dengan definisi yang di ungkapkan oleh Masdar F. Mashudi yang mengartikan dakwah islamiyah sebagai suatu proses penyadaran untuk mendorong manusia agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrah nya.

Kehadiran makalah ini diharapkan dapat membantu memberikan landasan teori bagi pelaksanaan dakwah. Sehingga para da’i memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif terhadap aktifitas dakwah, dan mempermudah Da’i dalam mengetahui tipologi dan klasifikasi masyarakat serta kemampuan berfikir terhadap sasaran dakwah secara tepat. Sebab seiap sasaran atau object dakwah memiliki suatu ciri-ciri tersendiri yang memerlukan suatu kebijakan dakwah dalam penyampaian, baik menyangkut masalah metodologis maupun kerangka konseptualnya. Dengan demikian, diharapkan umat akan memahami bahwa tuga dakwah baik secra individu, maupun berorganisasi, sehingga ajaran Islam tetap membumi sebagi pegangan hidup umat.

B. Rumusan Masalah

Dari makalah ini, kami membuat beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apa yang Dimaksud dengan Mad’u (Objek Dakwah) ?
2. Bagaimana Klasifikasi Mad’u ?
3. Apa Saja Tujuan Dakwah ?

C. Sistematika Pembahasan

Makalah ini terbagi dari tiga bagian, yaitu : I. Pendahuluan, II. Pembahasan, III. Penutup. Bagian pertama adalah pendahuluan yang membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, dan sistematika pembahasan, bagian kedua pemakalah membahas Mad’u (Objek Dakwah), Klasifikasi mad’u, dan Tujuan Dakwah. Bagian ketiga penulis menutup dengan mengemukakan kesimpulandari penulisan makalah. Bagian akhir makalah ini, penulis melengkapidengan daftar pustaka sebagai rujukan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Mad’u (Object Dakwah)

Mad’u adalah objek dakwah bagi seorang da’i yang bersifat individual, kolektif, atau masyarakat umum. Masyarakat sebagai objek dakwah atau sasaran dakwah merupakan salah satu unsur yang penting dalam sistem dakwah yang tidak kalah peranannya dibandingkan dengan unsur unsur dakwah yang lain oleh sebab itu masalah masyarakat ini seharusnya di pelajari dengan sebaik-baiknya sebelum melangkah ke aktivitas dakwah yang sebenarnya. Maka dari itu sebagai bekal dakwah dari seorang da’i atau muballig hendaknya memperlengkapi dirinya dengan beberapa pengetahuan dan pengalaman yang erat hubungannya dengan masalah masyarakat. 

Menurut Jamaluddin Kafie, Mad’u adalah seluruh manusia sebagai makhluk Allah yang dibebani menjalankan agama Islam dan diberi kebebasan untuk berikhtiar, kehendak dan bertanggungjawab atas perbuatan sesuai dengan pilihannya, mulai dari individu, keluarga, kelompok, golongan, kaum, massa, dan umat manusia seluruhnya.

Objek dakwah yang diajak kepada Allah atau menuju al-islam. Karena Islam bersifat universal, objek dakwah pun adalah manusia secara universal. Hal ini didasarkan juga kepada misi Muhammad Saw. Yang diutus oleh Allah untuk mendakwahkan Islam kepada segenap umat manusia, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al- A’raf (7) : 158.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, Supaya kamu mendapat petunjuk”.

Object Dakwah (mad’u) adalah merupakan sasaran dakwah. Yang tertuju pada masyarakat luas, mulai diri pribadi, keluarga, kelompok, baik yang menganut Islam maupun tidak ; dengan kata lain manusia secara keseluruhan. Sejalan dengan firman Allah dalam QS. Saba’ 28 :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS. Saba’:28)
Terkait dengan ayat di atas memberi kejelasan bahwa dakwah itu diajukan kepada seluruh umat manusia. Menurut pandangan Abdul Munir Mulkhan, bahwa Object akwah ada dua sasaran, yaitu umat dakwah dan umat ijabah. Umat dakwah yang dimaksud adalah masyarakat luas non Muslim, sementara umat ijabah adalah mereka yang sudah menganut Agama Islam. Kepada manusia yang belum beragama Islam, dakwah bertujuan untuk mengajak mereka untuk mengikuti Agama Islam ; sedangkan bagi orang-orang yang telah beragana Islam dakwah bertujuan meningkatkan kualitas Iman, Islam dan Ihsan. Hal yang sama juga dikemukakan Muhammad abu Al-Fatl al Bayanuni, mengelompokkan mad’u dalam dua rumpun besar, yaitu rumpun muslim atau umat ijabah (umat yang telah menerima dakwah) dan non Muslim atau umat dakwah (umat yang belum sampai kepada mereka dakwah Islam). Umat ijabah dibagi dalam tiga kelompok, yaitu: pertama, Sabiqun bi al-khaerat (orang yang saleh dan bertaqwa), kedua, Dzalimun linafsih (orang fasih dan ahli maksiat), ketiga, muqtashid (mad’u yang labil keimanannya). Sedangkan umat dakwah dibagi dalam empat kelompok, yaitu: Ateisme, Musyrikun, ahli kitab, dan munafiqun.

Moh. Ali Aziz mengemukakan bahwa bagi orang yang menerima dakwah itu lebih tepat disebut mitra dakwah dari pada sebutan object dakwa, sebab sebutan object dakwah lebih mencerminkan kepasifan penerima dakwah; padahal sebenarnya dakwah adalah suatu tindakan menjadikan orang lain sebagai kawan berfikir tentang keimanan, syari’ah, dan akhlak kemudian untuk diupayakan dihayati dan diamalkan bersama-sama. Menurtu hemat penulis baik sebutan object ataupun mitra dakwah itu sama saja, yang terpenting adalah bagaimana seorang dai mampu mengkomunikasikan dakwah secara baik dan tepat kepada mad’unya sehingga mad’u dapat memahami dan mengamalkan isi pesan yang disampaikan.

M. Bahari Gazali, melihat object dakwah dari tinjauan segi psikologinya, yaitu :

1. Sasaran dakwah yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologisnya berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota serta masyarakat marjinal dari kota besar.
2. Sasaran dakwah yang menyangkut golongan dilihat dari segi struktur kelembagaan berupa masyarakat dari kalangan pemerintah dan keluarga.
3. Sasaran dakwah yang berupa kelompok dilihat dari segi sosial kultur berupa golongan priyayi, abangan, dan santri. Klasifikasi ini terutama dalam massyakat Jawa.
4. Sasaran dakwah yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat usia berupa golongan anak-anak, remaja dan dewasa.
5. Dilihat dari segi profesi dan pekerjaan. Berupa golongan petani, pedagang, buruh, pegawai, dan administrator.
6. Dilihat dari jenis kelamin berupa golongan pria dan wanita.
7. Golongan masyarakat dilihat dari segi khusus berupa tuna susula, tuna karya. nara pidana, dan sebagainya.

Selain itu M. Bahri Ghazali, juga mengelompokkan mad’u berdasarkan tipologi dan klasifikasi masyarakat, yang dibagi dalam lima tipe, yaitu:

1. Tipe innovator, yaitu masyarakat yang memiliki keiginan keras pada setiap fenomena sosial yang sifatnya membangun, bersifat agresif dan tergolong memiliki kemampuan antisipatif dalam setiap langkah.
2. Tipe pelopor, yaitu masyarakat yang selektif dalam menerima pembaharuan dalam membawa perubahan yang positif. Untik menerima atau menolak ide pembaharuan, mereka mencari pelopor yang mewakili mereka dalam menggapai pembaharuan itu.
3. Tipe pengikut dini, yaitu masyarakat sederhana yang kadang-kadang kurang siap mengambil resiko dan umumnya lemah mental. Kelompok masyarakat ini umumnya adalah kelompok kelas dua di masyarakatnya, mereka perlu seorang pelopor dalam mengambil tugas kemasyarakatan.
4. Tipe pengikit akhir, yaitu masyarakat yang ekstra hati-hati sehingga berdampak kepada anggota masyarakat yang skeptis terhadap sikap pembaharuan, karena faktor kehati-hatian yang berlebihan, maka setiap gerakan pembaharuan memerlikan waktu dan pendekatan yang sesuai untuk bisa masuk.
5. Tipe kolot, ciri-cirinya, tidak mau menerima pembaharuan sebelum mereka benar-benar terdesak oleh lingkungannya.

Mad’u bisa juga dilihat dari segi kemampuan berfikirnya sebagai berikut :

a. Umat yang berfikir kritis, yaitu orang-orang yang berpendidikan, yang selalu berfikir mendalam sebelum menerima sesuatu yang dikemukakan kepadanya.
b. Umat yang mudah dipengaruhi, yaitu masyarakat yang mudah dipengaruhi oleh paham baru tanpa mempertimbangkan secara mantap apa yang dikemukakan padanya.
c. Umat bertaklid, yaitu golongan yang fanatik, buta brerpegang pada tradisi, dan kebiasaan turun-temurun tempat menyelidiki kebenarannya.

B. Klasifikasi Mad’u

Secara mendasar klasifikasi, mad’u ini tidak ada hubungannya dengan memetak-metak kelompok ataupun pengkastaan golongan manusia atas manusia lainnya. Lebih dari itu, pengklasifikasian mad’u memilii maksud tersendiri yakni untuk memperoleh pengetahuan tentang karakter-karakter yang khas dimiliki oleh suatu kelompok  mad’u tertentu yang tidak terdapat pada lainnya.

Ada banyak Ulama yang menjelaskan tentang sasaran atau orang-orang yang perlu di dakwahi namun penulis mencoba mengambil beberapa pendapat yang di anggap penting dan utama dalam makala ini :

Menurut Muhamkmad Abu Fath Al-Bayanun Dakwah itu ditujukan untuk orang  kafir agar masuk islam, juga di tujukan kepada muslim untuk memperbaiki keislaman mereka serta meningkatkan keimanan mereka. Kalau orang-orang kafir di seru itu terdiri dari berbagai macam jenis dan modelnya, demikina juga objek dakwah dari kalangan muslimin pun bermacam-macam.

Al-Quran telah mengisyaratkan bahwa muslimin itu terbagi menjadi tiga macam. Allah ta’ala berfirman :

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ 

            “kemudian kami mewariskan kitab itu kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami. Maka di natara mereka sendiri dan dikalangan mereka pun ada orang yang sedang-sedang da nada pula di antara mereka yang lebi dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” 

Pengetahuan ini, secara lebih jauh sangat berguna untuk menentukan kebijakan dakwah tentang bagaimana cara mensikapi dan berinteraksi dengan masing-masing kelompok manusia tersebut. Sekaligus sebagai pengalaman atas nabi: “Khatib al-nas ala qadri uqulihim/ berkomunikasi dengan manusia setara dengan taraf penalaran mereka”.

Dalam hubungannya dengan seruan dakwah,  ojek dakwah di sini digolongkan menurut empat kategori. Pertama, sikap mad’u terhadap seruan dakwah. Kedua, antusiasanya kepada dakwah. Ketiga, kemampuan dalam memahami dan menangkap pesan dakwah, dan Keempat, kelompok mad’u berdasarkan keyakinan.

1. Klasifikasi Mad’u Menurut Sikapnya terhadap Dakwah.

Pakar dakwah abdul Karim Zaidan dalam buku Ushul al-Dakwah, mengolompokkan manusia dalam empat ketegori berdasarkan sikapnya terhadap dakwah. Empat kategori dakwah yang dimaksud secara berturut-turut adalah :

1. al-mala (pembuka masyarakat), yaitu kelompok manusia yang memegang wewengan atas keadilan masyarakat banyak.
2. Jumhur al-anas (mayoritas manusia), mereka itu terdiri dari kelompok alit masyarakat yang memiliki kekuasaan penuh atas orang bayak.
3. Munafiqun (orang0orang munafik) adalah tife kelompok oportunis yang menyembunyikan kekufuran di balik keislamannya. Menurut Zaidan, mereka itu biasanya ditemukan dalam stuasi ketika kebenaran telah menjadi opini publik dan keimanan telah menjadi identitas mayoritas.
4. Al-usat (para Pendurhaka) adalah ketegori orang-orang yang masih bimbang dalam menerima kebenaran. Oleh karena itu iman mereka tidak tipis dinilai tidak cukup kuat untuk menahannya dari perbuatan-perbuatan maksiat, sekalipun telah menyatakaan keislamannya.

2. Pengelompokkan Mad’u Berdasarkan Antusiasnya Kepada Dakwah

Mengenai sikap mad’u terhadap seruan dakwah, al-qur’an menyebutkan tiga kelompok Mad’u yaitu :

a. Kelompok yang bersegerah dalam menerima kebenaran (al-sabiquna bi al-khirat). Menurut pakar tafsir kenamaan Wahbah al-Zuhayli yaitu golongan mad’u yang cenderung antusias pada kebaikan dan tanggap terhadap seruan-seruan dakwah baik sunnah apa lagi yang wajib. Sebaliknya dia amat takut mengerjakan hal-hal yang diharamkan agama, di sambing berusaha sebisa mungkin menghindari yang dimakruhkan atau malah hal-hal yang masih di bolehkan (mubah).

b. Kelompok pertengahan (muqthasid), sedangkan golongan yang kedua ini menurut Zuhayli, adalah golongan pertengahan. Mereka merupakan orang-orang yang mengerjakan kebijakan-kebijakan agama dan meninggalkan yang diharamkan dan kurang tanggap terhadap kebaikan yang dianjurkan (sunah).

c. Kelompok yang menzalimi dirisendiri (zhalim linafsi) adalah kelompok yang sedang melampaui batasan-batasan agama, kerap melakukan larangan-laranan agama.   Menurut alqa’i, kelompok ini yang justuru paling bayak ditemukan dalam masyarakat. 

3. Pengelompokkan Mad’u Berdasarkan Kemampuannya Menagkap Pesan Dakwah

Adapun pengelompokkan mad’u berdasarkan berdasarkan kemampuannya menagkap pesan dakwah, yaitu :

1. kemampuannya dalam menangkap pesan dakwah, dalam hal ini berdasarkan orang yang sering bersinggungan dengan kebenaran dikarenakan pengetahuannya yang mendalam. Kelompok ini terdiri dari para sarjana, pemikir dan ilmuan.

2. kelompok manusia yang tidak mampu mengendifikasi kebenaran kecuali setelah melewati proses dialektika dan sintesis. Kelompok ini terdiri dari mereka yang memiliki pengetahuan namun tidak sampai mendasar. Dengan kata lain, mereka inilah kelompok yang sedang menelururi dan mencari hakikat kebenaran.

3. kelompok yang hanyamampu menegendifikasi kebenaran dalam bentuk-bentuknya yang umum dasn parsial (common sense). Mereka itulah yang disebut kelompok awam (kebanyakan orang) dan merekamenempati jumlah terbesar diantara kelompok manuasia lainnya.

Dalam kategori ini, mad’u dikelompokkan secara hierarkis dimulai dari kelompok elit hingga lepel bawah. Demikian itu, karena kemampuan seseorang untuk menagkap pesan dakwah terkait erat dengan kedalamannya memahami agama secara hakikatnya. Memulai cara pandang ini, filsuf kenamaan Ibn Rusd mengkategorikan manusia dalam tiga kelompok, ahl al-burhan, ahl al-jidal, dan ahl-kitab. Dalam penyelasannya terhadap kelompok pertama, Ibn Rusyd menyebutkan sebagai representasi dari pemuka agama yang umum dikenal dengan sebutan ulama atau burhani, yaitu mereka dalam menagkap pesan-pesan dakwah didekati dengan mengajuhkan bukti-bukti demonstratif yang tak terbantahkan.

4. Kategori Mad’u Menurut Keyakinannya

Dakwah diakui sebagai ajakan universal, artinya ajakan dakwah tidak dibatasi hanya kepada kelompok tertentu dan tidak yang lainnya. Terkait dengan aneka ragam keyakinan manusia di muka bumi, dakwah juga memiliki kepentingan untuk menarik orang kejalan kepentingan untuk mrnarik orang kejalan Tuhan. Untuk itu, tentu saja dakwah dituntut untuk menyiapkan sterategi yang berbeda ketika dihadapkan dengan para kelompok mad’u yang beragama Islam dan mad’u yang tidak beragama Islam. Tiga kategori mad’u yang penulis telah paparkan, sebetulnya dimaksud untuk memilih-milih tipe mad’u yang masuk dalam kelompok mad’u muslim. Dalam ruang diskusi ini, secara singkat penulis akan memaparkan mengenai kelompok mad’u yang kedua, yaitu kelompok nonmuslim.

Dalam al-qur’an, nonmuslim dalam artian mereka yang tidak mengimani Muhammad sebagai Rasul, juga digolongkan dalam banyak kelompok, misalnya ahl al-kitab, musyirikin dan kafirun. Menurut Abdul Moqsith Gazali dalam kajiannya tentang al-qur’an, kelompok musyirikun, sejauh pengguna istilah al-qur’an, disebut untuk mewakili kaum pagan Quraish yang tidak mengimani Muhammad sebagai Rasul dan tidak memiliki pegangan kitab suci pun.  Adapun kelompok kafirun, disebut untuk menunjuk kepada mereka yang gemar menutup-nutupi kebenaran dan memutarbalikkan fakta, baik dari golongan musyirikun maupun ahl-Kitab.  Khusus terkait dengan golonga tersebut terakhir, dalam tinjuan ulama ditemukan polemik yang tidak mudah untuk dikompromikan. Dalam bahasan ini, penulis menilai pendapat yang menyatakan bahwa ahl-kitab sebagai semua kelompok agama-agama di dunia yang memiliki pedoman kitab suci dan tidak terbatas pada penganut Nasrani dan Yahudi adalah yang dapat dipertanggung jawabkan. 

Sejauh pandangan al-qur’an tentang kelompok ahl-kitab, begitu Moqsith menjelaskan, adalah lebih positif ketimbang pandangan al-qur’an tentang musyirikun. Demikian, karena itu dinilai sebagai kelompok yang beriman kepada para rasul dan memiliki pandangan hidup Islam, (dalam artian pasrah kepada Tuhan semesta alam) seperti terejawantahkan dalam ajaran kitab suci mereka, walaupun mereka tidak memiliki keyakinan Islam par excelence. Penilaian tersebut, secara objektif, juga disertai oleh kritik dan keamaan al-qur’an terhadap sikap-sikap tertentu yang dinlai telah menyimpang dari pandangan hidup yang benar. Begitupun al-quran melalui ayat-ayatnya masih menaruh simpati terhadap kelompok ahl al-Kitab dikarenakan banyaknya sisi kesamaan mereka denga orang-orang beriman pengikut nabi Muhammad. Melalui pandangan yang positif dan optimis itu, al-qur’an sejatinya menarh kepercayaan besar pada kelompok ahl al-kitab dan menghidupkan gelobal yang lebih bermakna dan bernilai. Adapun pandangan-pandangan negatifyang keras terhadap ahl kitab yang selama ini terdengar, sebetulnya lahir belakangan bersama dengan sejarah dinamika perkembangan agama-agama yang menurut orientalis Bernard Lewis, lebih disebabkan oleh faktor kesamaan antara agama-agama itu ketimbang perbedaannya. 

C. Tujuan Dakwah

Tujuan dakwah sebagai bagian dari seluruh aktivitas dakwah yang sama pentingya daripada unsur-unsur lainnya, seperti subyek dan obyek dakwah, metode dan sebagainya. Bahkan lebih dari tujuan dakwah sangat menentukan dan berpengaruh terhadap penggunaan metode dan media dakwah, sasaran dakwah sekaligus strategi dakwah juga ditentukan atau berpengaruh olehnya (tujuan dakwah). Ini disebabkan karena tujuan merupakan arah gerak yang hendak dituju seluruh aktivitas dakwah. Yang mana kesemuanya tersebut dimulai dari motivasi dan kesenangan di dalam berdakwah.

1. Tujuan Umum Dakwah (Major Obyektive)

Sebenarnya tujuan dakwah adalah tujuan yang diturunkannya agama islam bagi ummat manusia itu sendiri, yaitu untuk membuat manusia yang memiliki kualitas aqidah, ibadah, serta akhlak yang tinggi.

Bisri Affandi mengatakan bahwa yang diharapkan oleh dakwah adalah terjadinya perubahan dalam diri manusia, baik kelakuan adil maupun aktual, baik pribadi maupun keluarga masyarakat, cara berfikir berubah, cara hidupnya berubah menjadi lebih baik ditinjau dari segi kualitas maupun kuantitas. Yang dimaksud adalah nilai-nilai agama sedangkan kualitas adalah bahwa kebaikan yang bernilai agama itu semakin dimiliki banyak orang dalam segala situasi dan kondisi.

Amrul Ahmad mengatakan tujuan dakwah adalah untuk memengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap, dan bertindak manusia pada dataran individual dan sosio kultural dalam rangka terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan. 

Kedua pendapat diatas menekankan bahwa dakwah bertujuan untuk mengubah sikap mental dan tingkah laku manusia yang kurang baik atau meningkatkan kualitas iman dan islam seseorang secara sadar dan timbul kemaunnya sendiri tanpa merasa terpaksa oleh apa dan siapapun.

Salah satu tugas pokok dari Rasullah adalah membawa mission sacre (amanah suci) berupa menyempurnakan akhlak yang mulia bagi manusia. Dan akhlak yang dimaksudkan ini tidak lain adalah Al-quran sendiri-sebab hanya kepada Al-quran-lah setiap pribadi muslim itu akan berpedoman, atas dasar ini tujuan dakwah secara luas, dengan sendirinya adalah menegakkan ajaran Islam kepada setiap insan baik individu maupun masyarakat, sehingga ajaran tersebut mampu mendorong suatu perbuatan sesuai dengan ajaran tersebut. 

2. Tujuan Khusus Dakwah (Minor Obyectif)

Tujuan khusus dakwah merupakan perumusan tujuan sebagai perincian dari pada tujuan umum dakwah. Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh aktivitas dakwah dapat jelas diketahui kemana arahnya, ataupun jenis kegiatan apa yang kehendak dikerjakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara menjelaskan informasi yang berwibawa dan terperinci.  Sehingga tidak terjadi overlaping antara juru dakwah yang satu dengan yang lainnya yang hanya disebabkan karena masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.

Oleh karena itu di bawah ini disajikan beberapa tujuan khusus dakwah sebagai terjemahan dari major obyektive yaitu :

a. Mengajak ummat manusia yang sudah memeluk agama Islam untuk selalu meningkatkan taqwanya kepada Allah swt. Artinya mereka diharapkan agar senantiasa mengerjakan segala perintah Allah dan selalu mencegah atau meninggalkan perkara yang dilarangya. Sebagaimana firman Allah :
 
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya:  Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (bagi orang yang tolong menolong dalam kejahatan). (Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 2)

b. Membina mental agama (Islam) bagi kaum yang mualaf. Muallaf artinya bagi mereka yang masih mengkhawatirkan tentang keislaman dan keimananya (baru beriman). Sebagaimana firman Allah :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya:  Tidaklah berarti oleh Allah akan sesuatu diri, melainkan sekedar kekuasaanya (kemampuanya). (Al-Qur’an Surat Al-BAqarah 286)

c. Mengajak ummat manusia yang belum beriman agar beriman kepada Allah (Memeluk Agama Islam). Tujuan ini bersandarkan atas firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai sekalian manusia, beribadahlah kamu kepada Tuhanmu, yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa kepada Allah. (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 21)

d. Mendidik dan mengajar anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya. Dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa manusia sejak lahir telah membawa fitrahnya yakni beragama islam (agama tauhid). Disebutkan dalam Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya:  Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Al-Qur’an Surat Al-Imran Ayat 19)

Tujuan dakwah seperti di atas bila dihubungkan dengan tujuan umum pendidikan agama islam di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia tampaknya sangat identic,  karena tujuan utama dari dakwah adalah agar hasil yang ingin dicapai oleh keseluruhan tindakan dakwah yaitu terwujudnya kebahagian dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Sedangkan tujuan perantara dari dakwah adalah membentuk nilai yang dapat mendatangkan kebahagian, keindahan dan dan kesejateraan yang diridhoi oleh Allah masing-masing sesuai sesuai dengan segi atau bidangnya. 

Tujuan umum dan tujuan khusus dari dakwah adalah terwujudnya individu dan masyarakat yang menghayati dan mengamalkan ajaran islam dalam semua lapangan hidupnya adalah tujuan yang sangat ideal dan memerlukan waktu serta tahap-tahap panjang. Oleh karena itu maka perlu ditentukan tujuan-tujuan perantara pada tiap-tiap tahap atau tiap-tiap bidang yang dapat menunjang tercapainya tujuan dari dakwah. 




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan klasifikasi di atas, kami menyimpulkan beberapa hal, sebagai berikut :

1. Mad’u dapat dikelompokkan dengan lima tinjauan, yaitu :

a. Mad’u ditinjau dari segi penerimaan dan penolakan ajaran Islam, terbagi dua, yaitu muslim dan non-muslim.
b. Mad’u ditinjau dari segi tingkat pengalaman ajaran agamanya, terbagi tiga, dzalimun linafsih, muqtashid, dan sabiqun bilkhaerat.
c. Mad’u ditinjau dari tingkat pengetahuan agamanya, terbagi tiga, ulama, pembelajar dan awam.
d. Mad’u ditinjau dari struktur sosialnya, terbagi tiga; pemerintah (al-Mala’), masyarakat maju (al-Mufrathin) dan terbelakang (al-Mustadh’afin).
e. Mad’uditinjau dari priorotas dakwah, dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dst.

2. Klasifikasi mad’u atau sasaran dakwah secara umum adalah seluruh manusia, dan objek dakwah 
secara khusus dapat ditinjau dari berbagai aspek. Secara khusus sebagai berikut :

a.  Aspek usia : anak-anak, remaja dan orang tua
b.  Aspek kelamin : Laki-laki dan Perempuan
c.  Aspek agama : Islam dan kafir atau non muslim
d. Aspek sosiologis : masyarakat terasing, pedesaan, kota kecil dan kota besar, serta masyarakat marjinal dari kota besar
e. Aspek struktur kelembagaan : Priyayi, abangan dan santri
f. Aspek ekonomi : Golongan kaya, menengah,dan miskin
g. Aspek mata pencaharian : Petani,peternak, pedagang,nelayan,pegawai,dll
h. Aspek khusus : Golongan masyarakat tuna susila, tuna netra, tuna rungu, tuna wisma Islam atau non islam.

Masyarakat sebagai objek dakwah atau sasaran dakwah merupakan salah satu unsur yang penting dalam sistem dakwah yang tidak kalah peranannya dibandingkan dengan unsur unsur dakwah yang lain, oleh sebab itu masalah masyarakat ini seharusnya di pelajari dengan sebaik-baiknya sebelum melangkah ke aktivitas dakwah yang sebenarnya agar dakwah yang kita sampaikan labi terarah dan mengenah ketujuan dakwah.

Tujuan dakwah ada dua yaitu tujuan dakwah secara umum dan tujuan dakwah secara khusus, tujuan dakwah secara umum adalah mengubah sikap mental dan tingkah laku manusia yang kurang baik atau meningkatkan kualitas iman dan islam seseorang secara sadar dan timbul kemaunnya sendiri tanpa merasa terpaksa oleh apa dan siapapun. Tujuan dakwah secara khusus adalah Mengajak ummat manusia yang sudah memeluk agama Islam untuk selalu meningkatkan taqwanya kepada Allah swt, Membina mental agama (Islam) bagi kaum yang mualaf. Muallaf artinya bagi mereka yang masih mengkhawatirkan tentang keislaman dan keimananya (baru beriman), Mengajak ummat manusia yang belum beriman agar beriman kepada Allah (Memeluk Agama Islam), Mendidik dan mengajar anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya.

B. Saran

Diharapkan bagi masyarakat Islam secara umum, khususnya kalangan akademisi dakwah dan aktivis dakwah agar dapat mengisi khazanah perbendaharaan buku-buku keislaman tentang dakwah Islam, untuk dijadikan bahan referensidalam melaksanakanatau mengembangkan dakwah.

Kita sebagai mahasiswa harus bisa menyampaikan dakwahnya dengan lidahnya sendiri dan berdakwah secara jujur dan adil terhadap semua golongan dan kelompok ummat dan tidak terpengaruh pada penyakit hati sehingga di dalam berdakwah nantinya bisa dengan niat ikhlas hanya karena Allah dan mengharap ridhanya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an(Jakarta:Kata Kita, 2009).
Ahmad Mubarok, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002).
Amrullah Ahmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Primaduta, 1983).
Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983).
Bernard Lewis, the Crisis Of Islam, (New York: The Moderen Library, 2003).
Bisri Affandi, Beberapa Percikan Jalan Dakwah, (Surabaya: Fakultas Dakwah Surabaya, 1984).
Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, Surabaya: Indah Surabaya, 1993.
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2004).
Mohammad Hasan, Buku Ajar Ilmu Dakwah, (Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2000).
Sayyed Quth, Fii DhilalilQuran, Beirut, Ihyaut Turatsi al-Araby, 1976.
Sukayat, Tata, Ilmu Dakwah: Perspektif Filsafat Mabadi ‘Asyarah, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015.
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Baru Pertama, 1997).
Wahbah al-Zuhayli, Tafsir al-Munir Fi al-Aqidah wa al-Syariah wa al-Manhaj, (Damaskus: Dar al-Fikr al-Muashir, 1997).
Wahidin Saputra, retorika monologika: kiat dan tips praktis menjadi muballig,(bogor: titian nusa press, 2010)
http://duniaglobalislam.blogspot.co.id/2011/06/dakwah-dan-komunikasi.html
http://www.bagusmakalah.com/2015/09/haikat-tujuan-dakwah.html
https://deybiagustin.wordpress.com/2012/12/08/madu-objek-dakwah/

https://ustadzahliblog.wordpress.com/2012/05/30/tafsir-surat-al-maidah-ayat-2/

Komentar